Demokrasi. Kini setiap orang selalu meneriakan demokrasi. Setiap orang selalu mengatasnamakan demokrasi. Katanya demokrasi untuk rakyat. Suara rakyat yang sangat di agung-agungkan. Suara rakyat yang katanya suara Tuhan. Heh.. seperti kentut.
Untuk rakyat. Begitu pejabat berkata. Mulai dari pejabat kelurahan, hingga pejabat yang sudah tidak punya martabat. Rakyat selalu menjadi obyek. Iming-iming mimpi yang tak tergapai.
Jika memang benar demokrasi itu untuk rakyat seperti kata pejabat-pejabat tadi, tidak salah. Bagi dirinya rakyat itu anak, istri juga rakyat, saudara juga rakyat, teman juga rakyat. Tak heran pejabat-pejabat kita seperti babi.
Apakah demokrasi itu sekarang seperti kentut? berbau tapi tak menjadi apa-apa? hanya angin semu yang membuat orang menciumnya muak?
Demokrasi itu bukan suara tuhan, bukan yang kita cari. Tuhan bukan uang. Dan demokrasi hanya kentut.
Rabu, 13 Januari 2010
Langganan:
Entri (Atom)
